Sinopsis "Broken Wings"



Aku tak bisa memungkiri, pabila cinta telah membuka pintu baru di kehidupanku. Berawal dari kesendirian panjang selama 8 tahun tanpa kasih sayang oleh siapapun. Pertemuanku dengan seorang saudagar kaya bernama Faris Affandi membuyarkan semua masa-masa kalbu yang telah lalu. Bukan hartanya yang menyembuhkanku, tapi hatinya yang telah menyembuhkanku. Dia adalah sahabat baik ayahku. Entah apa yang terjadi antara hubungan ayahku dengan dia, tapi aku melihat ada suatu ikatan khusus antara mereka berdua.
Cerita itu berawal dari perajalanku dengan teman baikku di kota Beirut. Ketika itu aku masih berada di dalam rumah temanku dan ketika itu pula lelaki tua penuh wibawa masuk kerumah itu. Belum sempat aku memperkenalkan diri temanku memperkenalkanku pada lelaki tua itu yang ternyata bernama Faris Affandi.
                Sejak pertemuan itulah perjalinan kekerabatan mulai muncul, dan saat itu pula aku berjanji untuk menyempatkan berkunjung kerumahnya. Di bulan Nisan ini aku mencoba kembali ke Beirut untuk menepati janjiku dengan Faris Affandi. Setelah beberapa saat mencari rumahnya akhirnya kutemukan juga. Yang ternyata rumahnya lebih besar daripada yang kubayangkan dimana bunga-bunga nan semerbak wangiannya mengantarkan tamu dari halaman menuju pintu rumah Faris Affandi.
                Faris Affandi telah menyambutku di ujung pintu rumahnya. Ia mempersilahkanku duduk dan beberapa saat kemudian seorang gadis cantik keluar dari daun pintu ruang tengah. Faris affandi mulai membuka mulut. “dia adalah Salma Karami, putri tunggalku” ujarnya. Entah apa yang ada di pikiranku tapi dia telah meredupkan hariku di kota Beirut yang panas ini.
Setelah terasa cukup aku bermaksud berpamitan dan tak lupa dia mengatarkanku ke depan pintunya. Sebelum aku beranjak pergi dia berpesan agar aku sering mampir dirumahnya, hanya dengan anggukan yakin aku membalasnya. Aku merasa romansa kehangatan kasih sayang seorang ayah ketika di dekat Faris Affandi dan tak mungkin aku menolak kemurahan hatinya.
Suatu hari Faris Affandi mengundangku untuk makan malam bersama di rumahnya dan aku menerimanya. Ditengah malam kala makan malam sedang disiapkan, aku melihat Salma duduk merenung disalah satu sudut taman yang amat luas itu, dia bagaikan bidadari merindukan bulan. Aku mencoba mendekatinya dan bahasa hati adalah satu-satunya pilihan ketika itu.
Belum sempat aku menatap mata Salma, Faris Affandi memanggil kami bahwa makan malamnya telah siap. ketika makan malam baru saja selesai seorang pelayan mengabarkan bahwa ada utusan uskup akan bertemu dengan Faris Affandi. Yang ternyata pengawal itu ingin membawa Faris Affandi kehadapan Uskup. Setelah Faris berpamitan dia meninggalkan kami berdua diantara heningnya malam ini.
Aku dan Salma terdiam, meski percakapan bukanlah satu-satunya cara saling mengerti diantara dua jiwa, kami tetap menunggu. Hingga akhirnya salma mulai membuka pembicaraan dengan mengajakku keluar ketaman. “mari kita keluar menuju bawah pohon, sembari menunggu bulan keluar dari celah pegunungan” ajak Salma padaku.
Kami saling bercerita satu sama lain, dan dari situ aku tahu bahwa hidup Salma penuh reliku, sama seperti aku. Perbincangan kita usai setelah kereta kuda berhenti dan menurunkan Faris Affandi yang sepertinya telah memikul beban berat di pundaknya. Benar saja ternyata Salama dipaksa oleh Uskup untuk menikah dengannya. Aku tak ingin membuat kejadian yang memalukan disini, kujabati tangan Faris Affandi dan kutatap dalam mata salma, berusaha memberi semangat baru padanya. Sebelum aku pulang Faris Affandi kembali berpesan agar sering-sering datang kerumahnya.
Beberapa bulan ini aku tak pernah lagi mengunjungi rumah Faris Affandi, itu bukan karena aku sibuk atau apa, tapi karna ragaku tak mampu menopangku berjalan kerumahnya. Hari itu aku berniat mendatanginya. Kupersiapkan diri ini dengan dandan yang tak biasa, seakan aku akan pergi ke suatu tempat suci. Pada siang itu aku pergi ke rumah Salma menaiki kereta kuda yang aku anggap paling istimewa di kotaku. Perjalananku kesanapun dimulai
Semakin kereta kuda ini melangkahkan kakinya, hatiku semakin terasa tak tentu. Apakah hari ini akan menjadi terakhirku?. Aku tak tahu. Kereta kudaku pun berhenti tepat di gerbang rumah Faris Affandi. Keketika itu pula aku terkejut, karna di tempat Faris Affandi tinggal banyak sekali orang yang memakai pakaian berwarna hitam seperti menandakan kedukaan. Benar saja, ketika aku memasuki lobi rumahnya, aku melihat tubuh tuan Faris Affandi telah terbujur tak bernafas.
Seketika itu pula aku merasa sayap-sayapku telah patah. Aku mencoba mencari Salma disekitar rumah. Berulang ulang kali aku mencoba mencarinya disekitar rumah, dan tak juga aku menemukannya. Aku mencoba bertanya kepada salah satu pengunjung dan jawabnya sungguh menyayat hati.
Ternyata selama 2 minggu ini Salma tak pernah lagi kembali dirumah, tawaran pernikahan yang ditawarkan Uskup pada waktu itu ternyata tdisetujui oleh Faris Affandi. Dan alasan itu pula yang membuat Salma tak lagi dirumah, dia telah dipinang oleh sang Uskup Tamak itu. Dia menikahi Salma hanya untuk mendapatkan harta ayahnya setelah ayahnya meninggal. Dan kini niatnya telah berhasil.
Namun yang lebih menyayat hati, kenapa mereka berdua tidak ada yang datang untuk berkabung dikematian mertuanya??
Setelah pemakaman Faris Affandi aku mncoba mencari Salma untuk memastikan dia telah tau bahwa ayahnya telah tiada. Hari itu pula aku mencari kediaman Uskup itu. Ketika pertama kali aku melihat rumahnya itu berkesan seperti rumah narapidana. Penuh dinding besar dan kawat berduri.
Aku coba meminta kepada penjaga untuk bisa bertemu dengan Salma, meraka mengijinkan diriku untuk bertemu salama. Namun tidak lama, hanya 10 menit saja, menurutku itu sangat khayal hanya diberikan waktu sesingkat itu. Tapi tak apalah, itu lebih baik, daripada tidak sama sekali.
Pertemuan singkat itu diawali dengan tangisan Salma yang tak urung berhenti. Ketika itu aku hanya bingung, sopankah aku menghentikan tangisnya? Pertemuan sepuluh menit itu akhirnya diakhiri dengan ucapan Salma yang mengatakan “Temui aku besok di bukit utara kota”. Dia pun pergi kedalam kembali sebelum aku ucapkan sepatah katapun.
Ke esokan harinya aku temui salma di bukit utara kota. Benar saja ia telah menungguku di atas bukit dengan wajahnya yang agak murung, yang mungkin sedang dilanda duka. Aku mencoba menyapanya, dan ia menyuruhku duduk di dekatnya
Dia membuka pembicaraan dengan menanyakan keadaanku, aku hanya menjawab. “Keadaanku tak jauh beda dengan keadaan hatimu”.
kami berbincang cukup lama disana. Semua perbincangan kami hanya mengarah kepada kedukaan kami berdua. Hingga akhirnya salma memutuskan untuk kembali kerumah barunya,yang menurutku lebih tepat dikatakan penjara. Sebelum ia pergi, ia berpesan kepadaku bahwa minggu depan,  di hari yang sama ia ingin menemuiku di tempat ini. Dan aku mengiyakan tawarannya.
Dalam hatiku hanyalah ada sesal di dada, mengetahui ia telah dengan yang lain. Karena di mimpiku hanyalah ia yang hadir di dalamnya. Semenjak aku tahu dia bukan milikku, rasanya dunia ini akan menimpa tubuhku yang kurus ini.
Pertemuan kami berlangsung, kali ini raut wajahnya mengalami perkembangan daripada hari kemarin. Disana kami saling bercerita kisah hidupnya satu sama lain. Pertemuan ini berlangsung berkali-kali, sebelum pada suatu hari salam mengatakn padaku bahwa dirinya telah berbadan dua. Aku merasa senang namun juga sedih mendengarnya. Setelah kejadian itu ia tak pernah lagi menemuiku.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kehampaanku tanpa cinta masih saja merengut sebagian nyawa hidupku. Sayap-sayapku yang patah tak urung juga kembali mengepakan sayapnya lagi. Hingga suatu hari, aku mndapatkan surat dari Salma, bahwa ia ingin menemuiku di bukit utara kota seperti yang dulu kami lakukan.
Pertemuan itu berlangsung. Saat itu dia menceritakan tentang bayi yang sedang dikandungnya, bahwa sebentar lagi akan terlahir kedunia yang penuh prahara ini. Namun pertemuan itu tak berlangsung lama, karna dia merasakan kejanggalan pada janinnya. Sebelum ia pergi dia sempat mengatakan bahwa ada sebagian hatinya ada namaku.
Siang itu perasaanku terasa gundah, serasa ada suatu keganjalan yang  menyelimuti siangku waktu itu. Entah kenapa aku terbayang-bayang akan wajah Salma, yang mungkin masih berbahagia dengan suaminya. Namun wajah salma belum juga sirna, aku memutuskan untuk ke rumahnya agar tau pasti bagaimana keadaannya.
Namun belum sempat aku sampai rumahnya ada banyak orang yang menuju rumah salma. Hatiku semakin tak tentu, kupercepat langkahku agar cepat sampai. Benar saja suatu yang salah terjadi disana, aku mencoba bertanya dengan orang-orang yang ada disana, namun tak ada satupun yang menghiraukanku.
Sampai suatu saat seorang Biarawati keluar sambil melinangkan airmatanya.  Aku mencoba menanyainya apa yang terjadi, namun jawaban yang ia berikan membuat kakiku layu tak berdaya. Dia mengatakan bahwa Salma Karami wanita yang  selam ini aku kenal, telah tiada bersama bayi yang dikandungnya
Mungkin itu adalah jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan atas semua penderitaannya selama ini. Tuhan memang telah mengtur semuanya, hingga akhir semua cerita ini. Mungkin setelah ini sayapku tak akan  bisa lagi mengembang.
Aku mengiringnya menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Sebelum ia di kebumikan Uskup itu memanjatkan doa dengan air mata buayanya yang terus keluar menutupi kegirangannya waktu itu. Ia dikebumikan dengan tenang disamping kuburan ayahnya, Faris Affandi.
Satu per satu orang pergi meninggalkan tempat itu setelah upacara pemakan selesai dilaksanakan. Namun aku tetap berdiri di pijikanku menunggu semua orang beranjak meninggalkan tempat pemakaman yang terselimuti lebatnya hutan cemara.
Setelah semuanya pergi, aku masih tetap disini ditemani hembusan angin yang membelai derai-derai cemara. Sembari aku menyarimi kuburan Salma dengan air mataku



                                                                                                                 pencipta: Kahlil Gibran
                                                                                                                 editor : Aufa D. A

Category: 1 komentar

1 komentar:

Outbound training malang mengatakan...

kunjungan gan .,.
saat kau kehilangan arah ingatlah masih ada yang menolong mu
dan tetap berdoa mengharap untuk menemukan jalanmu.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.

Posting Komentar