“iya bu...” jawab si malin, sambil mengmbil kendi untuk tempat air.
Matahari sudah memncarkan cahayanya cukup terang. Tak terasa 1 jam telah berlalu dan sampailah Si Malin di sumber mata air yang amatlah jernih airnya yang berada ditengah hutan yang amatlah sunyi, hanya kicauan burung saja yang menemaninya. Tapi ketika ia hendak mengambil air, ia melihat sesosok anak monyet yang sedang terbaring lemas disisi lain tempat itu. Jiwa penolongnya seketika itu langsung keluar dan Malin berusaha mendekatinya untuk mencari tahu apa yang membuat Monyet itu terbaring lemas disana.
Malin berjalan mendekati si anak Monyet dan menebak-nebak apa yang telah menimpa anak monyet itu.
“Apa mungkin anak monyet itu diputuskan oleh pacarnya hingga selemas itu?” pikirnya dalam hati.
Tapi ketika Malin hampir menyentuhnya, Si anak monyet yang tadinya tengah terbaring lemas itu langsung kabur ketengah hutan.
“ah, mungkin tebakanku benar. Ia lemas gara-gara diputuskan pacarnya. hehehe” gumamnya lagi dalam hati.
Belum sampai lima langkah Malin meninggalkan tempat tadi. Tiba-tiba dia mendengar suara “nguk nguk nguk nguk” lantas ia melihat monyet-monyet dalam jumlah lebih dari sepuluh. Tanpa pikir panjang pemuda 14 tahun itu langsung berlari tunggang langgang kearah rumahnya, tanpa mempedulikan kendi yang tadi dibawanya. Ternyata benar, puluhan monyet-monyet itu langsung mengejarnya.
“ibu..... tolong Malin!!!” jerit malin sambil berlari ketika monyet-monyet itu mulai mengejarnya.
“ibu..... tolong Malin!!!” jerit malin sambil berlari ketika monyet-monyet itu mulai mengejarnya.
Saking takutnya, ia mungkin berlari melebihi pelari nasioanal jaman sekarang, yaitu Suryo Agung Wibowo. Namun naas salah satu dari monyet itu berhasil mencakar lengan kanannya. Setelah tenaganya mulai habis, tiba-tiba ada seseorang Bapak yang memakai caping menariknya kesebuah gubuk yang mungkin lebih mirip semak-semak daripada gubuk.
Dengan erat bapak bercaping itu membekap erat mulut Malin agar monyet-monyet itu tidak mengetahui keberadaan mereka. Setelah beberapa saat mereka bersembunyi disana, akhirnya mereka keluar. Melihat luka di lengan malin, bapak bercaping itu menutup luka cakaran monyet tadi di lengan malin dengan sebuah gombal yang dibawanya.
“waduh nak, ini lukanya cukup parah. Ayo bapak antar tabib, biar nanti pakai uang bapak dahulu.” Bujuk Si Bapak Bercaping kepada malin kundang dengan halus.
“waduh nak, ini lukanya cukup parah. Ayo bapak antar tabib, biar nanti pakai uang bapak dahulu.” Bujuk Si Bapak Bercaping kepada malin kundang dengan halus.
“emmm” jawab Malin sambil agak malu kepada bapak itu.
Hari semakin siang. Mereka menapaki jalan hutan setapak demi setapak dan mulailah pembicaraan antara mereka berdua:
“Pak, kalau boleh tahu nama bapak siapa ya?”
“Pak, kalau boleh tahu nama bapak siapa ya?”
“Oh, nama saya Pak Najib. kamu sendiri siapa nak?”
“Nama saya Malin, pak”
“kenapa kamu tadi kamu dikejar-kejar monyet, nak Malin?”
“Tadinya saya mau ambil air untuk ibu saya dirumah, tapi ketika sampai disana saya melihat anak monyet yang berbaring lemas dan saya ingin menolongnya, namun malah si anak monyet tadi memanggil kawanannya, jadinya ya seperti ini pak”
“oh..., lalu kemana ayahmu nak?”
“ayah saya sudah diceraikan ibu saya sejak saya masih kecil dan sekarang saya tak tau beliau ada dimana.”
“kanapa ayahmu diceraikan ibumu, nak” tanya pak najib dengan penuh penasaran.
“ayah saya diceraikan ibu saya gara-gara, ayah saya suka kentut sembarangan” jawab Malin tanpa rasa bersalah.
“he...” Pak Najib menanggapinya dengan senyum kecut di bibirnya.
“ayah saya sudah diceraikan ibu saya sejak saya masih kecil dan sekarang saya tak tau beliau ada dimana.”
“kanapa ayahmu diceraikan ibumu, nak” tanya pak najib dengan penuh penasaran.
“ayah saya diceraikan ibu saya gara-gara, ayah saya suka kentut sembarangan” jawab Malin tanpa rasa bersalah.
“he...” Pak Najib menanggapinya dengan senyum kecut di bibirnya.
. . . .
Setelah sekian lama mereka berjalan akhirnya sampai juga mereka dirumah seorang tabib yang akan mengobati luka Malin. Si Tabib menyilahkan masuk Malin dan segera menggobatinya.
Luka malin kundang akhirnya selesai diobati sang tabib. Pak Najib lantas menanyakan biaya penggobatan tadi
“jadi ini berapa biayanya?” tanya Pak Najib pada Tabib.
“biayanya 10 perak saja khusus untuk anak ini.” Jawab tabib sambil mengelus rambut Malin.
“waduh!” Pak Najib kaget ketika tahu ternyata saku celananya bolong.
“jadi ini berapa biayanya?” tanya Pak Najib pada Tabib.
“biayanya 10 perak saja khusus untuk anak ini.” Jawab tabib sambil mengelus rambut Malin.
“waduh!” Pak Najib kaget ketika tahu ternyata saku celananya bolong.
“kenapa?” tanya Tabib
“saku yang untuk menaruh uang saya bolong itu pak tabib” jawab Pak Najib malu sambil terus merogoh saku celananya yang memang bolong.
“waduh, bagaimana kalau diganti dengan caping milikmu saja?” tawar Tabib
“baiklah kalau begitu” Pak Najib menyerahkan caping kesayangannya.
Sebenarnya Malin kasihan kepada Pak Najib yang telah susah payah menolongnya hingga mengorbankan caping kesayangannya dan Malin sebenarnya juga geli melihat wajah Pak Najib ketika sadar sakunya bolong.
Pak Najib lantas mengantarkan Malin sampai kerumahnya, karena dia kasihan kepada Malin yang hidup hanya dengan seorang ibu. Tiba-tiba di tengah jalan Malin bertanya.
“kalau boleh tahu, kenapa tadi bapak berada ditengah hutan seperti itu?”
“kalau boleh tahu, kenapa tadi bapak berada ditengah hutan seperti itu?”
“oh, tadi saya baru saja menjual ikan hasil tangkapan di desa sebrang”
“ternyata bapak nelayan ya, bolehkah saya ikut bapak melaut?” tanya malin penuh semangat.
“tentu boleh. Kalau mau besok pagi sebelum matahari terbit datanglah ke dermaga, kita akan langsung berangkat.” Jawab Pak Najib sebelum Malin berpisah untuk masuk kerumahnya.
“tentu boleh. Kalau mau besok pagi sebelum matahari terbit datanglah ke dermaga, kita akan langsung berangkat.” Jawab Pak Najib sebelum Malin berpisah untuk masuk kerumahnya.
“sampai ketemu besok, da...” lambai Malin sambil masuk kerumahnya.
“da juga nak...” balas Pak Najib sambil melambaikan tangan juga.
“da juga nak...” balas Pak Najib sambil melambaikan tangan juga.
Setelah itu Malin masuk ke rumah dan menceritakan semuanya kepada ibunya, termasuk tentang masalah pelayaran mencari ikan besok bersama Pak Najib. Akhirnya ibu Malin mengizinkan untuk melakukan pelayaran besok. Waktu semakin larut Malin memutuskan untuk pergi tidur. Sebenarnya dia amat senang sekali bisa ikut berlayar, hingga sebelum tidur ia sempat berhayal dahulu.
“semoga saja dipelayaran besok aku dapat melihat putri duyung yang sedang mandi di tengah samudra. Hehehe” kata-kata terakhir Malin sebelum akhirnya ia terlelap tidur.
“semoga saja dipelayaran besok aku dapat melihat putri duyung yang sedang mandi di tengah samudra. Hehehe” kata-kata terakhir Malin sebelum akhirnya ia terlelap tidur.
. . . .
Mungkin malam baru bergeser, tapi Malin sudah bersiap-siap untuk berangkat berlayar. Tak lupa ibunya juga ikut mengantarkankan Malin ke dermaga yang tak jauh dari rumahnya.
“Bu, jangan khawatirkan malin. Hanya 14 hari saja Malin pergi berlayar.”
“Ya nak, asalkan kamu bisa menjaga dirimu baik-baik”
“baik bu...”
Disertai kecupan manis dikening malin kundang oleh sang ibu paruh baya itu. Sebelum akhirnya panggilan Pak Najib memisahkan mereka untuk sesaat.
“Malin, ayo cepat naik ke kapal!”
“Malin, ayo cepat naik ke kapal!”
“Siap Pak!”
Lambaian tangan Malin kepada ibunya mengungkapkan isyarat kepergiannya untuk sesaat.
. . . .
Baru 7 jam perjalanan laut, yang Malin dapat bukannya putri duyung yang sedang mandi, tapi malah mabuk laut menghampiri. Waktu itu matahari sudah menampakan sebagian kecil dirinya dan para awak kapal, termasuk Pak Najib sedang tertidur pulas. Karna Malin sudah tidak tahan denngan mabuk lautnys, dia memutuskan untuk pergi ke gladak dan mengeluarkan isi perutnya
“huek huek huek”
Saat Malin baru saja mengeluarkan isi perutnya, tiba-tiba gelombang besar datang dan membuat tali pengikat drum-drum bekas yang dibelakangnya lepas. Ketika itu pula nasib buruk menimpa Malin. Drum-drum bekas yang lepas itu menghantamnya dari belakang dan membuat Malin terjungkal kelaut “byur”. Tidak ada seorangpun yang tahu kejadian itu sehingga malin tertinggal oleh kapal.
. . . .
Setelah matahari cukup menyengat kulit, para awak kapal terbangun dari tidurnya.
“Malin...?” teriak Pak Najib memanggil Malin
“Malin...?” teriak Pak Najib memanggil Malin
Mengetahui Malin tidak ada ditempat, Pak Najib meminta seluruh awak kapal untuk mencari Malin. Namun sayang setelah mencari keseluruh bagian kapal, Malin tidak ditemukan juga.
“Pak, mungkin Malin jatuh ke laut saat gelombang besar tadi malam. Karena saya lihat drum-drum itu sudah tidak ditempatnya lagi.” Salah satu anggota menyampaikan pendapat pada Pak Najib sambil menunjuk pada drum-drum yang sudah tak tertata lagi.
“Apa kamu bilang” ucap Pak Najib tak percaya
“Mungkin pendapat teman saya memang benar, Pak” ungkap salah satu awak kapal membenarkan pendapat temannya
“Apa kamu bilang” ucap Pak Najib tak percaya
“Mungkin pendapat teman saya memang benar, Pak” ungkap salah satu awak kapal membenarkan pendapat temannya
Kini Pak Najib hanya bisa merenungi apa yang telah terjadi pada Malin, salah satu awak kapalnya dan ia juga binggung, mau bicara apa dia mengenai yang terjadi pada Malin kepada ibu Malin.
. . . .
14 hari berlalu. Kelompok nelayang Pak Najib berlabuh lagi di pulau dimana dia dan para awaknya berangkat dulu. Di ujung dermaga sana ternampak sorang ibu paruh baya yang sepertinya menunggu sesuatu atas kedatangan para nelayan itu. Benar saja, ibu paruh baya itu adalah ibu Malin kundang yang sedang menanti putranya pulang dari melaut. Pak Najib mencoba menghampiri Ibu tadi untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Malin.
Setelah Pak Najib menjelaskan semuanya tentang apa yang terjadi pada Malin kepada ibu Malin. Ibu malin terjatuh lemas dan menangis tersedu-sedu berharap itu semua adalah mimpi. Tapi tak bisa dipungkiri, Malin memang benar-benar jatuh kelaut.
. . . .
Ibu itu kini semakin tua, dia juga kini hidup sendiri karna kejadian 14 tahun silam. Yaitu saat anak semata wayangnya dikabarkan jatuh kelaut dan tak tau kabarnya hingga saat ini.
Siang itu, ditengah ibu tua tadi sedang belanja di pasar. Tiba-tiba kapal layar besar datang. entah apa yang dipikirkan olehnya, ia berlari menuju kerumunan dimana orang-orang menanti siapa orang yang akan turun dari kapal yang mewah itu.
Seorang pria tampan bersama seorang wanita yang amat cantik turun dari kapal mewah itu, sepertinya mereka adalah sepasang suami istri. Tiba-tiba ibu tadi memanggil nama anaknya yang lama telah hilang ketika ibu tadi melihat luka bekas cakaran di lengan kanan pria itu.
“Malin, apakah kau malin?” tanya ibu tadi sambil mendekat kepada seorang pria tampan yang baru turun dari kapal,
“Siapa kamu nenek tua?” tanya pria tampan yang baru saja turun dari kapal.
“aku ibumu Malin...”
“ah masak, kamu ibuku?”
“hok oh, aq ibumu”
“apa..., kamu ibuku?” ungkap pria tampan tadi diikuti hening sebentar, dan...
“ibu..., aku kangen ibu....” rengek pria tampan tadi yang ternyata adalah Malin anak ibu tadi yang disertai pelukan rindu seorang anak kepada ibunya dan sorakan orang-orang yang tengah melihatnya.
Setelah 14 belas tahun tak bertemu akhirnya Malin dan Ibunya bertemu. Cinta Malin kepada ibunya masih seperti dulu, tak kurang secuilpun malah bertambah besar. Setelah kejadian tadi, Malin memutuskan untuk singgah dirumah ibunya dulu, dan ternyata wanita yang amat cantik itu adalah istri Malin. Malin pun mulai bercerita kenapa ia bisa sekaya sekarang.
“Bu, sebenarnya dulu Malin terjatuh dari kapal Pak Najib gara-gara Malin tak tahan mabuk laut” ungkap malin memulai pembicaraan.
“lalu kenapa kamu bisa selamat?”
“saat malin terjatuh tiba-tiba ada kapal nelayan lain yang lewat, dan Malin ditolong oleh kapal itu. Setelah itu Malin ikut mencari ikan dengan nelayan tadi”
“oh, terus kenapa kamu sekaya ini?”
“saat Malin sampai pulau para nelayan tadi, Malin mencoba melamar pekerjaan di kerajaan sana dan Malin diterima sebagai pejabat pajak, ujung-ujungnya Malin kaya seperti ini deh, hehehe”
“terus darimana kamu dapatkan istri secanti itu?”
“oh, itu sih Malin nemu dijalan, bu”
Belum selesai Malin menceritakan semua kepada ibunya, tiba-tiba istri Malin yang cantik itu mengajak pulang. Tanpa bisa menolak Malin pun memenuhi permintaannya. Saat Malin ingin mengajak ibunya agar ikut, istrinya menolak dengan kasar. Dengan terpaksa Malin menaiki kapal dengan wajah sedikit nesu karena ibunya tak boleh ikut.
. . . .
Tiba-tiba ditengah perjalanan pulang, Malin menegur istrinya karena melarang Ibunya ikut dengannya yang membuat percekcokan antara keduanya.
“hey, kenapa tadi kamu menolak saat aku ingin mengajak ibuku bersama kita?” tanya malin
“gue tu kagak mau kalo punya mertua jorok kayak wanita tua tadi” ungkap istri Malin sombong
“oh gitu, memangnya ini semua uangmu?”
“ya iyalah, mang loe sapa?”
“jadi kamu ngaja cerai?”
“berani nyerain gue, gue sumpahin lo jadi batu!”
“silahkan, memangnya aku takut?, week”
“oke kalo itu mau loe” dengan suara yang lantang istri malin menjerit “GUE SUMPAHIN SUAMI GUE JADI BATU!!!”
Tiba-tiba langit mengeluarkan petirnya dan samudra mengeluarkan ombaknya. “jeduer jeduer byur!!!”. Sebelum akhirnya salah satu petir menyambar Malin yang membuatnya berlutut dan menjerit
“aw.”
Itulah kata-kata terakhir Malin sebelum semua yang ada dikapalnya menjadi Batu. Hingga kini batu itu masih ada. Batu itu sampai sekarang masih ada dan dijuluki sebagai Batu Malin Kundang Si Anak Koplak.
ikikik, itu adalah cerita dongeng hasil modifikasiku yang saya ikutkan dalam Fairy Land . doakan saja semoga cerita itu bisa menang ya.... :-D



13 komentar:
keren i like it
ikikik
thanks bro... :-D
keren,
semoga menang yak
salam ikikik :-D
sebhhhh....
You have a talent in literature
Kang Rama
artine opho kwi cah....????
ikikik :-D
penulisnya yang koplak
hohoho,
yang penting heppi euy....
Keren Dik,,, lanjutkan... lucu2!!! sumpah saya ngakak!!!
thanks....
n makasih dah mau baca cerpen ecek-ecek.q :-D
hehehe You have ketipu ikikiki :D
MaLin Kundang nya kok ganteng siih ...
ikikik .. :D
@funky Netter : ikikik :-D
@Early : yen jelek yo ndak ganteng tho...
ikikik :-D
Posting Komentar